Jawab Kritik Mega, Ulil: Kita Harus Fair, Adil ke Pak Jokowi dan Pak Anies - Kerja Jokowi Top !

Jawab Kritik Mega, Ulil: Kita Harus Fair, Adil ke Pak Jokowi dan Pak Anies



Pernyataan Megawati Soekarnoputri kembali memicu polemik. Kali ini, dia mengritik pengelolaan Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan yang disebutnya semakin amburadul karena seharusnya kota ini sekarang menjadi "City of Intellectual."

Cendekiawan muslim Ulil Abshar-Abdalla mengoreksi kalimat "City of Intellectual" yang disampaikan Megawati, seharusnya "Student City."

Ulil mengatakan Jakarta memang tidak mendapatkan gelar "City of Intellectual," tetapi para kaum intelektual terbaik dari pelbagai pelosok negeri ini berbondong-bondong ingin tinggal di Jakarta.

"Jakarta makin amburadul? Ndaklah, Bu. Ada perkembangan yang layak dipuji. Misalnya, kawasan Cikini saat ini makin indah. Enak untuk jalan kaki. Trotoarnya lebar. Begitu juga Jalan  Wahid Hasyim hingga Sabang, makan ramah buat pejalan kaki," kata Ulil melalui media sosial.

Menurut Ulil membandingkan Joko Widodo ketika masih menjabat gubernur Jakarta dengan Anies mesti fair. Keduanya telah melakukan banyak hal untuk Indonesia dan Jakarta. Ada yang kurang dan harus dikritik, tetapi ada kemajuan juga yang mesti dihargai. 

"Jakarta banyak kok perkembangannya di bawah Anies. Ndak bisa diingkari," kata Ulil.

Ulil mengajak semua kalangan mengembangkan budaya kritik yang sekaligus dibarengi dengan apresiasi sehingga tidak terjatuh pada "penyakit politik" Amerika sekarang ini. Di Amerika, kata Ulil, polarisasi politik sudah begitu parah; birpartisanisme atau sikap adil pada kedua belah pihak sulit dicapai.

"Yang jelas, dalam hal "alertness", kewaspadaan dan kesigapan menghadapi pandemi, Guberner Anies bersikap tepat, dan jauh kebih baik dari pemerintah pusat. Dalam hal ini, dia GUBENER. Ini harus kita apresiasi," kata Ulil. Ulil nampaknya sengaja menulis gubernur menjadi gubener.

Dibanding kota-kota lain di Indonesia, menurut Ulil, Jakarta jelas punya "keuntungan" yang tak dimiliki tempat lain. Misalnya,  fakta bahwa kinerja pemerintah Jakarta selalu disorot oleh publik luas, termasuk dari luar DKI, ini jelas positif, kata Ulil.

Kemudian, kata Ulil, kota lain tidak seberuntung DKI adlam aspek "dicereweti" oleh netizen ini. Akibatnya, tidak ada insentif yang kuat untuk berbenah secara serius. "Dicereweti publik memang menjengkelkan. Tetapi, percayalah, itu membawa berkah banyak," katanya.

Ulil kemudian mengapresiasi sikap politikus Partai Solidaritas Indonesia di DPRD Jakarta. Menurut dia seharusnya di DPR ada fraksi yang sekritis PSI.

"Walau mungkin banyak yang ndak suka PSI di DKI, tetapi keberadaan partai anak-anak muda ini di DPRD DKI ini punya kontribusi penting: bersuara lantang untuk mengawasi kinerja gubernur. Sayang ndak ada fraksi yang "serewel" PSI di tingkat DPR untuk mengawasi pemerintah pusat," kata dia.

Ulil berharap Fraksi Demokrat dan PKS bisa se"rewel" PSI di tingkat DKI. "Sekarang ini, partai besar dan menengah sudah dirangkul oleh pemerintah. Di satu pihak, bagus untuk mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Tapi bisa buruk karena melemahkan kontrol, dan memperkuat kartel partai."

Sementara itu, anggota Fraksi PDI Perjuangan Jhonny Simanjutak mengatakan kritik ketua umumnya bukan dalam rangka memecah belah warga. Namun, kata dia, untuk memperbaiki kinerja.

"Pernyataan Bu Mega bahwa Jakarta amburadul saya pikir tidak dalam spirit untuk memecah belah atau membuat gaduh. Ini hanya soal pilihan diksi," ujar Johhny dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi TV One, Rabu (11/11/2020).

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain menilai justru Anies bisa membawa Jakarta menjadi kota yang "semakin hebat, bersih, dan nyaman."

"Nampaknya, Anies bukan saja berhasil membuat Jakarta menjadi kota yang semakin hebat, apik, bersih, dan nyaman. Tapi juga berhasil membuat beberapa kalangan menjadi "kalap." Is it right...?" kata Tengku melalui media sosial.

Kritik Megawati juga dipertanyakan oleh sosiolog Musni Umar. Kritik tersebut, menurut dia, kontra dengan kenyataan yang terjadi di Jakarta.

"Jakarta amburadul kata Ibu Mega. Pertanyaannya, kalau amburadul, mengapa berbagai institusi pemerintah dan swasta dalam dan luar negeri sudah berpuluh-puluh yang memberi penghargaan kepada Jakarta yang dipimpin Anies Baswedan? Rakyat monitor," kata Musni Umar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Like Fanspage Kami

Iklan Bawah Artikel